Boneka (dari bahasa Portugis boneca) adalah sejenis mainan dengan berbagai  bentuk terutama manusia atau hewan, serta tokoh-tokoh fiksi. Boneka bisa dikatakan salah satu jenis mainan tua yang sudah ada sejak  zaman YunaniRomawi ataupun Mesir kuno dengan fungsi, bentuk, maupun bahan pembuatan yang terus berkembang. Secara umum,  boneka dibuat sebagai mainan anak-anak, namun kadang-kadang digunakan untuk fungsi ritual yang berhubungan dengan alam atau hal-hal yang bersifat gaib.  

 

“Industri boneka merupakan usaha kecil dan menengah yang memiliki peluang besar untuk bisa berkembang di Indonesia. Persoalannya, belum banyak pihak yang melirik industri ini sebagai industri yang menguntungkan sekaligus membuka banyak lapangan kerja bagi masyarakat. Sekarang ini, industri boneka memang masih sebatas industri rumahan dengan jumlah masing-masing pegawai hanya mencapai 10 orang. Namun, hal tersebut bukan berarti industri tersebut tidak memiliki daya saing,” jelas Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Media Desain dan IPTEK, Kemenparekraf, Harry Waluyo, pada kick off Pekan Kreatifitas Boneka Indonesia di Balairung Soesilo Soedarman, (13/6).

 

Berdasarkan laporan BPS, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB sebanyak 7% dengan nilai sebesar Rp 574 miliar serta menyumbang 12 juta pekerja dan usaha yang berkembang sebanyak 10%. Melihat potensi tersebut, Harry mengaku bahwa pihaknya optimis industri boneka tanah air mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri serta tamu terhormat di negeri lain.

 

Mengenai pengembangan industri boneka, Harry menjelaskan bahwa pihaknya telah bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian UMKM untuk membuat perencanaan pengembangan salah satu industri kreatif ini. “Berdasarkan data yang kami peroleh dari Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia, bahwa kebutuhan mainan anak saat ini hanya terpenuhi sebanyak 25%. Hal ini dapat digambarkan dengan asumsi, 30% penduduk Indonesia adalah anak-anak dengan jumlah kebutuhan 5 boneka pertahun, sehingga total kebutuhan boneka yang harus dipenuhi adalah 62.500 buah. Sementara, industri baru bisa memenuhi sebanyak 15.000. Melihat angka ini, kami optimis dapat mendorong pihak industri untuk menghasilkan boneka dengan kualitas dan kuantitas yang lebih berdaya saing,” jelasnya lagi.

 

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia Widjanarko mengatakan bahwa pengembangan industri mainan masih terkendala jumlah pengusaha yang sedikit, pemodalan, serta penyediaan bahan baku. “Selain itu, para pembuat boneka masih diperlakukan layaknya tukang jahit, dimana tugas mereka hanya sebatas menjahit pesanan boneka calon pembeli, mereka tidak diberi kuasa untuk berkreasi dalam membuat boneka,” sebutnya.

 

Dilanjutkan Widjanarko, pihaknya juga masih kesulitan menentukan figur khas Indonesia untuk dijadikan tokoh boneka. “Kalau di luar negeri, kita mengenal boneka Teddy Bear, yang terinspirasi dari seorang mantan Presiden Amerika bernama Theodore. Nah, kami sebagai pelaku industri masih kesulitan untuk mengangkat satu figur khas orang Indonesia. Beberapa waktu lalu kami sempat mempopulerkan tokoh Hanoman, tapi minim peminat,” ujarnya lagi.

 

Melihat permasalahan ini, Harry Waluyo mengatakan bahwa pihaknya akan membuat pemetaan dalam rangka mengembangkan industri boneka. “Potensi industri boneka sebagai salah satu industri kreatif dapat membuka lapangan kerja sangat besar. Untuk itu, kami akan bekerjasama dengan sejumlah pihak terkait untuk menciptakan kejayaan boneka. Diharapkan dengan terselenggaranya kick off ini merupakan bentuk komitmen awal kami dalam upaya mengembangkan industri boneka,” tutupnya. (Puskompublik)

Penerimaan Mahasiswa Baru

PMB Online

Berita Terbaru

Arsip